Jakarta (KABARIN) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga Hari Raya Idul Fitri, meskipun harga minyak mentah dunia sempat melonjak dan menembus angka 100 dolar AS per barel.
Bahlil menyampaikan hal tersebut saat ditemui sebelum mengikuti rapat terbatas di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Selasa. Ia mengatakan pemerintah telah membahas kondisi tersebut bersama Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa untuk memastikan subsidi tetap terjaga.
"Pemerintah, kemarin kita juga melakukan pembahasan dengan Menteri Keuangan, saya dapat memastikan untuk menyangkut subsidi BBM, sampai dengan Hari Raya (Idul Fitri) Insyaallah tidak ada kenaikan apa-apa. Jadi, negara hadir untuk memastikan bahwa sekali pun ada kenaikan harga minyak mentah dunia, tetapi untuk subsidi tetap sama, tidak ada kenaikan harga, untuk minyak subsidi ya," kata Bahlil menjawab pertanyaan wartawan.
Menurut Bahlil, pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi agar masyarakat tidak terbebani, terutama menjelang momen penting seperti bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang biasanya diikuti dengan peningkatan kebutuhan masyarakat.
Di lokasi yang sama, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga memberikan penjelasan terkait kondisi anggaran negara untuk subsidi BBM. Ia memastikan bahwa anggaran subsidi saat ini masih cukup kuat untuk menahan dampak kenaikan harga minyak dunia.
"Kita masih aman, masih kuat. Ini kan baru beberapa hari naiknya. Kita kan subsidinya setahun penuh. Rata-rata setahun 70 (dolar AS per barel) asumsi kita. Ini kan baru beberapa hari saya. Jadi, belum cukup untuk mengubah anggaran kita. Jadi kita masih bisa absorb," kata Purbaya menjawab pertanyaan wartawan.
Bahlil juga mengungkapkan bahwa per hari ini harga minyak mentah dunia sebenarnya sudah kembali turun ke bawah 100 dolar AS per barel. Namun, pergerakannya masih sangat fluktuatif.
Saat ini, harga minyak mentah dunia berada di kisaran 80 hingga 90 dolar AS per barel.
Sejalan dengan itu, Purbaya juga menilai bahwa harga minyak global masih berpotensi berubah dengan cepat, baik naik maupun turun.
"Itu bisa naik, bisa turun cepat loh. Jadi, kita lihat, pastikan, betul enggak naik, betul enggak turun. Begitu beberapa hari, beberapa minggu naik, ya sudah kita bisa antisipasi naik terus. Ini kan enggak. (Harga, red.) naik, tiba-tiba turun lagi. Nanti kalau harga minyak turun, kita ubah lagi, repot kan. Jadi, menetapkan respons APBN itu lebih hati-hati dibandingkan dengan merespons gerakan saham," ujar Purbaya.
Karena itu, pemerintah memilih untuk mengamati lebih dulu perkembangan harga minyak mentah dunia dalam beberapa waktu ke depan sebelum mengambil langkah kebijakan yang lebih besar.
"Saya pikir cukup (sebulan mengamati harga, red.), sekarang ini berubah-ubah kan. 120 (dolar AS per barel) yang kemarin, tinggi. Berapa sekarang, 90 (dolar AS per barel). Kalau turun lagi bagaimana? Kan berubah terus. Jadi, kita nanti tebak arahnya yang sebetulnya seperti apa," kata Menkeu Purbaya.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026